Daripada Urus TWK Pegawai KPK, Komnas HAM Disarankan Tangani Pelanggaran HAM Berat | MATAKITA.ID google-site-verification=iDZD_sCXRN3R-DqV5CJ4GT0iMTQps4yfhRlW83dgnsI

Home / Politik

Rabu, 9 Juni 2021 - 12:11 WIB

Daripada Urus TWK Pegawai KPK, Komnas HAM Disarankan Tangani Pelanggaran HAM Berat

Poto Drs. Emrus Sihombing Pakar Komunikolog Indonesia

Jakarta | Matakita.id – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) diberitakan mengirim surat panggilan kepada pimpinan KPK terkait laporan pegawai yang tidak memenuhi syarat (TMS) tes wawasan kebangsaan (TWK) dalam rangka alih status pegawai menjadi Aparatus Sipil Negara (ASN).

Jawaban terhadap isi pertanyaan atau koesioner TWK merupakan instrumen mengelompokkan peserta tes memenuhi syarat (MS) atau TMS secara objektif.

“Pelaksanaan TWK untuk alih status menjadi ASN merupakan perintah UU. Jadi, siapapun komisioner di KPK pasti melakukan hal itu. KPK hanya melaksanakan UU. Jadi, masih sangat jauh dari kemungkinan tidak sesuai dengan atau potensi pelanggaran HAM,” ujar Pengamat dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing melalui siaran pers di Jakarta, Selasa (8/6).

BACA JUGA :  Alex Hamberi gubernur NRFPB provinsi Meepago Nabire Kembali Ke NKRI diikuti Simpatisannya

Komunikolog ini mengungkapkan bahwa materi TWK, disusun berbasis pada keilmuan dari para pihak yang membuatnya, yang boleh jadi antara lain mengukur gradasi pengetahuan atau kesadaran, konstruksi sikap, bentuk perilaku dan kepribadian terkait dengan kebangsaan.

“Bagaimana proses mereka menyusun materi pertanyaan merupakan otoritas kelimuan yang mereka miliki,” ujarnya.

Selain itu, katanya, paket sebuah instrumen (termasuk kuesioner) untuk mengukur sesuatu sudah melawati tes validitas (mengukur apa yang diukur) dan reliabilitas (melihat konsistensi alat ukur).

Berdasarkan pengalamannya, Emrus mengatakan, pernah mengikuti tes semacam ini. Paket kuesioner dijilid dalam satu buku ukuran sedang disertai nomor atau kode tertentu yang terlebih dahulu diisi oleh peserta tes pada lembar jawaban. Kode ini bukan sebagai bobot materi antar paket, tetapi hanya sekadar tanda pembedaan.

BACA JUGA :  Lukai Hati Buruh, DPW PPMI Sumsel Desak Jokowi Keluarkan Perpu Pembatalan UU Cipta Kerja

Materi TWK diberikan ke semua peserta, artinya diperlakukan sama. Jadi, memenuhi prinsip keadilan. Hasilnya, ada yang MS dan ada yang TMS. Seandainyapun yang TMS lebih banyak dari MS, itu biasa saja dalam suatu tahapan proses tes.

Karena itu, katanya, untuk mendalami materi TWK, sesuai atau tidak sesuai dengan HAM, maka dapat dilakukan analisis semiotika untuk melihat hakekat makna dari keseluruhan rangkaian pertanyaan, tidak terlepas satu dengan lain. “Sehingga saya belum melihat urgensi Komnas HAM langsung mengirim surat pemanggilan kepada komisioner KPK,” ujarnya.

BACA JUGA :  Blusukan Ke Desa, Tiga Pilar Kabupaten Majalengka Gelar Ops Yustisi

Untuk itu, dirinya menyarankan Komnas HAM agar lebih memprioritaskan penanganan pelanggaran HAM berat, seperti hilangnya nyawa orang yang sama sekali tidak berdosa, daripada urusi TWK yang jauh kemungkinan tidak sesuai HAM.

“Singkatnya, setelah melakukan analisis semiotika terhadap isi TWK, dan jika masih ada yang perlu didalami isi paket koesioner tersebut, Komnas HAM dapat mengundang tim pembuat kuesioner untuk berdiskusi, sehingga terjadi bertukar makna,” pungkasnya. ( Red )

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Politik

Postingan Hoax Di Grup WhatsApp Tentang PDIP Menuai Cibiran Dari Berbagai Kalangan Di Masyarakat

Nasional

Dinilai Ketua DPRD Termuda Se Indonesia, Agil Zulfikar : Prestasi Saya Bukan Jabatan, Tapi Kebermanfaatan

Daerah

Paksakan Pilkada, Sultan Ingatkan KPU Untuk Tangungjawab Bila TPS Jadi Klaster Baru

Politik

Susunan AKD DPRD Kabupaten Purwakarta Ditetapkan

Politik

Ketua DPD RI Ingatkan Tiga Sektor Prioritas

Infrastruktur

Menko Luhut Perintahkan Studi Komprehensif Untuk Bangun Infrastruktur Terintegrasi di Provinsi Bengkulu

Nasional

Dua Kementerian Baru, Siapa Menterinya…???

Daerah

Massa Unras Ragukan Keabsahan Surat Penolakan UU Ciptaker Yang Dikeluarkan DPRD Purwakarta
%d blogger menyukai ini: