Solusi dan Langkah Antisipatif Atasi Corona | MATAKITA.ID google-site-verification=iDZD_sCXRN3R-DqV5CJ4GT0iMTQps4yfhRlW83dgnsI

Home / Politik

Minggu, 18 Juli 2021 - 17:49 WIB

Solusi dan Langkah Antisipatif Atasi Corona

Jakarta| Matakita.id – Tampaknya pemerintah pusat lebih memilih memperpanjang
PPKM (Perberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) darurat dalam rangka negeri ini berupaya keras menekan lonjakan dan penyebaran Covid-19 dengan segala variannya.

Bahkan LBP sebagai koordinator PPKM Jawa-Bali, tidak biasanya meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam kepada seluruh rakyat Indonesia jika penanganan belum optimal. Ke depan, dia berjanji bekerja keras supaya penyebaran varian Delta ini dapat diturunkan.

Tentu kita semua prihatin melonjaknya kasus virus Corona di tanah air. Belum ada tanda-tanda terkendali. Situasi saat, menurut hemat saya, berpotensi memasuki krisis kesehatan, dengan indikator kemungkinan terjadi keterbatasan ketersediaan obat-obatan, pelayanan kesehatan, kuranganya tenaga kesehatan (Nakes), dan sebagainya.

BACA JUGA :  Rakernis SSDM Polri, Kapolri Tekankan Pemanfaatan Teknologi Menuju Era 4.0

Sekalipun boleh jadi gedung-gedung “nganggur” akan “disulap” menjadi rumah sakit (RS) darurat, misalnya, namun kebutuhan minimal pelayanan kesehatan harus tetap terpenuhi. Ini harus menjadi pemikiran dan tindakan serius oleh kita semua. Sekali lagi, oleh kita semua.

Jika pelayanan kesehatan kemungkinan bermasalah ke depan, maka kepercayaan publik terhadap Kementerian Kesehatan, utamanya kepada menterinya, dipastikan semakin menurun sebagai konsekuensi kekecewaan masyarakat terhadap penanganan kesehatan oleh Kementerian Kesehatan.

BACA JUGA :  DPRD Sumsel Siap Menjembatani Tuntutan Mahasiswa Ke Jokowi

Untuk itu, saya menyarankan tiga hal. Dua yang pertama sebagai solusi. Satu yang terakhir, sebagai langkah antisipatif.

Sebagai solusi. Pertama, agar disegerakan membuat strategi komunikasi menumbuhkan kesadaran, membentuk sikap dan melakukan perubahan perilaku taat Prokes secara ketat sebagai senjata pamungkas bertempur di hulu mendahului tindakan tracing, testing, dan treatment (3T).

Kedua, saya menyarankan kepada Presiden agar menteri kesehatan (Menkes) segera direposisi, menjadi Wamen BUMN saja. Dia lebih pas di jabatan Wamen daripada Menkes karena latar belakang disiplin ilmunya dan belum ada tanda-tanda penanganan Covid-19 akan terkendali.

BACA JUGA :  CSIRT Sumsel Kolaborasi Dengan BSSN Tanggulangi Ancaman di Ruang Siber

Sedangkan sebagai langkah antisipatif, penganangan Covid-19 dengan segala dampak turunannya, sebaiknya pemerintah pusat membentuk sentral pengelolaan krisis (crisis management centre) Covid-19.

Lembaga ini bekerja atas sejumlah phase (tahapan). Phase terakhiri, pemulihan kondisi psikologi dan ekonomi masyarakat terdampak. Setiap phase diperlukan peran sentral seorang manager komunikasi (communication manager) dari seorang komunikolog handal dan profesional.

Salam,
Emrus Sihombing
Komunikolog Indonesia
0812 8689 8015

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleepy
Sleepy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Share :

Baca Juga

Nasional

Gerindra Kirim Bantuan Ke NTT: Ini Bagian Solidaritas Sebangsa Dan Setanah Air

Daerah

Toto Suripto Anggota Komisi IV DPRD Karawang Minta SPP SMA/SMK Digratiskan

Politik

Stafsus Presiden Ajak kaum Melianial Membangun Daerah

Politik

Kunker di Sultra, Ketua DPD RI Ziarah ke Makam Sultan Buton I

Daerah

Komunikasi Pelayanan Ketulusan Ada di BUMN BTN

Politik

Ketua DPRD Purwakarta Periode 2019 – 2024 Dilantik

Politik

KPU Teken MOU Kesepahaman Pengamanan Pilkada 2020 KPU Dengan Polres Karawang

Daerah

Unggul Di Pilkada PALI, Heri Amalindo: Jangan Ribut, Jaga Suara
%d blogger menyukai ini: